Sabtu, 23 Oktober 2010

SKRIPSI

AFIKSASI VERBA BAHASA MELAYU JAMBI DIALEK BUNGO DI RANTAU EMBACANG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Jurusan Bahasa dan Seni


OLEH:

ZAKIYA

NIM. 0600820717030

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BATANGHARI JAMBI

2010


LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul: “Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo

di Rantau Embacang” yang diajukan oleh mahasiswa:

Nama : Zakiya

NIM : 0600820717030

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Seni

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Disetujui dan disahkan oleh dosen pembimbing untuk diuji oleh:

Jambi, November 2010

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Ade Rahima, M. Hum. Abdoel Gafar, S.pd, M.Pd


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BATANGHARI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Telah disetujui dan dinyatakan lulus oleh tim penguji Skripsi Universitas Batanghari Jambi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada:

Hari :

Tanggal :

Jam :

Tempat : Ruang Sidang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari

TIM PENGUJI

Nama Jabatan Tanda Tangan

1. Ketua Penguji

2. Sekretaris

3. Anggota

4. Anggota

Jambi, November 2010

Mengetahui

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dra. Hj. Farida Hariyani, MM.

PERSEMBAHAN

“Manusia yang bijak adalah manusia yang bisa melewati

rintangan dalam kehidupan ini”

“Jangan buang hari ini dengan mengkuatirkan hari esok.

Gunung pun terasa datar ketika kita sampai ke puncaknya.

( Phi Delta Kappan )

Ku persembahkan karya ku ini...

Buat Ayahanda dan ibunda tercinta

Beserta ke enam kakanda

(Marzuki, Hudiah, Asni, Padilah, asiah, M. Syahir)

Yang selalu mengiringi langkahku

tuk menggapai masa depan.

Terima kasih juga kepada yang terkasih,

Teman-teman seperjuangan & teman-teman kutai

Yang selalu menebar canda & tawa saat bahagia,

dan ikut berampeti saat duka

Akhirnya kepada Yang di ataslah ku persembahkan raga ini

Semoga Yang Mahakuasa memberikan yang terbaik untuk kita semua. Amin

bY : Zaki


ABSTRAK

Zakiya. 2010. Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo di Rantau Embacang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Batanghari, Pembimbing: (I) Dra, Ade Rahima, M. Hum (II) Drs, Abdoel Gafar, M.Pd

Kata Kunci: Afiksasi,Verba, Bahasa Melayu.

Bahasa Melayu di Rantau Embacang Kecamatan Kecamatan Tanah sepenggal Lintas Kabupaten Bungo merupakan bahasa yang selalu di pergunakan oleh penuturnya dalam berkomunikasi sehari-hari . untuk menjaga dan melestarikan bahasa Melayu tersebut, maka diperlu diadakan penelitian ini yang dibahas dan diteliti yaitu : (1) Bagaimana bentuk afiks yang ada dalam bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang (2) Berapa jumlah afiks yang terdapat di dalam bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang? afiksasi adalah proses penambahan afiks pada bentuk dasar berupa morfem terikat dan dapat ditambahkan pada awal kata, tengah, akhir.

Penyediaan data dalam penelitian ini adalah ini dengan data lisan dan data tulis. Data lisan lisan diambil dari informan yang asli menggunakan BMJ di desa Rantau Embacang Keamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo, sedangkan data tulis bersumber dari tuo-tuo tangganai atau kalangan adat setempat.

Di lihat dari segi bentuknya afiksasi Bahasa Melayu Jambi desa Rantau Embacang Keamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu prefiks, sufiks, konfiks dan proses yang digunakan untuk menganalis data yaitu metode kajian distribusional dengan menggunakan teknik top down.


KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia Nya lah skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Jurusan Pendidikan dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Batanghari. Skripsi ini berjudul “Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo di Rantau Embacang”.

Dalam penyelesaian skripsi ini tidak sedikit bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh kerena itu, sudah sepantasnyalah pada kesempatan yang baik ini penulis dengan kerendahan hati dan rasa ikhlas menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada ibu pembimbing akademik Dra, Ade Rahima, M. Hum. yang sekaligus sebagai pembimbing skripsi I dari awal duduk dibangku kuliah hingga sampai kepenyusunan skripsi ini ibu telah sabar membimbing, membina dan memberikan sumbangan pikiran yang sangat berarti bagi penulis serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Drs, Abdoel Gafar, M.Pd. selaku Pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan masukan-masukan yang sangat berarti kepada penulis, sehingga penulis mampu menelesaikan skripsi ini dengan baik. ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Hj. Farida Hariyani, M.M sebagai Dekan FKIP Universitas Batanghari Jambi, dan bapak Drs. Jonner Simarmata, M.M Sebagai Ketua Jurusan Bahasa FKIP Universitas Batanghari jambi.

Selain itu, ucapan terima kasih penulis ucapkan khususnya kepada kedua orang tua tercinta serta ke enam orang kakak saya yang tidak pernah henti-hentinya memberikan kasih sayang dan motivasi kepada penulis dan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seseorang yang selama ini telah memberi dukungan yang sangat besar kepada penulis, dan yang tak kalah pentingnya ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang telah banyak memotivasi dan masukan-masukan kepada penulis, kepada teman-teman kutai yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu terima kasih atas semua dukungan teman-teman semuanya.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, amin.

Jambi, Oktober 2010

Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………. i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI…….……………………………….. ii

PERSEMBAHAN…………………………………………………………. iii

ABSTRAK………………………………………………………………… iv

KATA PENGANTAR…………………………………………………….. v

DAFTAR ISI…………………….………………………………………… vii

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN……………………………… iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………….. 3

1.3 Tujuan Penelitian………………………………………… 3

1.4 Manfaat Penelitian………………………………………. 3

1.4.1 Manfaat Teoritis…………………………………………. 3

1.4.2 Manfaat Praktis………………………………………….. 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Morfologi……………………………………. 5

2.2 Pengerian Afiks dan Afiksasi……………………………. 6

2.2.1 Pengertian Afiks………………………………………… 6

2.2.2 Pengertian afiksasi………………………………………. 7

2.3 Ciri-ciri afiks…………………………………………….. 8

2.4 Jenis-jenis dan Bentuk Afiks……………………………. 11

2.4.1 Prefiks…………………………………………………… 11

2.4.2 Infiks…………………………………………………….. 12

2.4.3 Sufiks……………………………………………………. 13

2.4.4 Konfiks…………………………………………………... 14

2.5 Proses Afiksasi…………………………………………… 15

2.5.1 Proses Prefiksasi…………………………………………. 16

2.5.1.1 Proses Prefiksasi /meng-/………………………………. 16

2.5.1.2 Proses Prefiksasi /ber-/…………………………………. 17

2.5.1.3 Proses Prefiksasi /di-/………………………………….. 18

2.5.1.4 Proses Prefiksasi /pe-/………………………………….. 18

2.5.1.5 Proses Prefiksasi /per-/…………………………………. 20

2.5.1.6 Proses Prefiksasi /ter-/…………………………………. 20

2.5.2. Proses Infiksasi………………………………………… 21

2.5.2.1Proses Infiksasi /-el/,/-em/,/-er/…………………………. 21

2.5.3 Proses Sufiksasi………………………………………… 22

2.5.3.1Proses Sufiksasi /-kan/………………………………….. 22

2.5.3.2 Proses Sufiksasi /-an/…………………………………... 22

2.5.3.3 Proses Sufiksasi /-i/……………………………………. 22

2.5.4 Proses Konfiksasi……………………………………… 23

2.5.4.1 Proses Konfiksasi /ke-…-an/…………………………… 23

2.5.4.2 Proses Konfiksasi /per-…-an/………………………….. 23

2.5.4.3 Proses Konfiksasi /me-…-kan/……………………….… 24

2.6 Pengertian Verba………………………………………… 24

2.6.1 Jenis-jenis Verba………………………………………… 25

2.6.1.1 Verba dari Verilaku Semantis…………………………. 25

2.6.1.2 Verba dari Segi perilaku Sintaktis……………………... 26

2.6.1.2.1 Verba Transitif………………………………………. 26

2.6.1.2.2 Verba intransitif……………………………………… 29

2.6.1.2.3 Verba Berpreposisi…………………………………… 30

2.6.1.3 Verba dari Perilaku Bentuk……………………………. 31

2.6.1.3.1 Verba asal/dasar…………………………………….. 31

2.6.1.3.2 Verba Turunan……………………………………….. 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian………………………………………. 34

3.2 Populasi dan sampel…………………………………….. 35

3.2.1 Populasi………………………………………………… 35

3.2.2 Sampel………………………………………………….. 35

3.3 Teknik Pengumpulan Data……………………………... 36

3.4 Data dan Sumber Data…………………………………. 37

3.5 Teknik Analisis Data…………………………………… 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil……………………………………………………. 44

4.1.1 Prefiks………………………………………………….. 45

4.1.2 Sufiks…………………………………………………… 45

4.1.3 Konfiks…………………………………………………. 45

4.2 Pembahasan…………………………………………….. 45

4.2.1 Prefiks………………………………………………….. 46

4.2.2 Sufiks…………………………………………………… 55

4.2.3 Konfiks…………………………………………………. 58

4.3 Jumlah Afiks yang Terdapat Dalam Verba Pada BMJ

dialek Bungo di Rantay Embacang……………………. 61

4.3.1 Prefiks………………………………………………….. 61

4.3.2 Sufiks………………………………………………….. 61

4.3.3 Konfiks………………………………………………… 62

BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan……………………………………………. 63

5.2 Saran…………………………………………………… 66

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 67

LAMPIRAN…………………………………………………………….. 78

DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………………………….. 86


DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN

BMJ : bahasa Melayu Jambi

ŋ : huruf ”ng” dan ”nga” dalam bahasa Melayu

ә : huruf [e] dalam bahasa Melayu

[R] : huruf [r] yang bunyinya ditenggorokan

: berubah menjadi

+ : dapat dikombinasikan

’.....’ : arti dalam bahasa Indonesia kata per kata

/...../ : lamabang ponemis/afiks

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa mempunyai perananan yang sangat penting bagi manusia, terutama sebagai alat berkomunikasi dan berintraksi dengan sesama manusia. Dengan berkomunikasi manusia dapat menyampaikan ide-ide, pengetahuan, gagasan dan meluapkan apa yang ada dalam pikirannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1997:4) “dengan berkomunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan dan kita ketahui kepada orang lain”.

Salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu tersebar dibeberapa di Indonesia, hal ini sesuai dengan pendapat Husin, dkk. (1986: 2) ”Bahasa melayu digunakan di daerah Medan, Deli Serdang, wilayah pantai timur laut Sumatera, Riau, Kampar, Jambi, Bengkulu, dan Palembang. Di Samping itu bahasa Melayu masih dikenal dan masih dipakai di daerah Kalimantan Barat dan beberapa daerah Kalimantan yang berbarbatasan dengan Serawak”.

Salah satu bahasa yang digunakan oleh penutur untuk berkomunikasi adalah Bahasa Melayu Jambi (BMJ), bahasa Melayu Jambi yang dimaksud adalah bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian masyarakat di Provinsi Jambi. hal ini sesuai dengan hasil penelitian Husin, dkk. (1986: 2) ”salah satu dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh penduduk Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, Tanjung Jabung- Barat, Tanjung Jabung Timur, dan sebagian Penduduk di Tebo dan Muara Bungo. Kedudukan bahasa Melayu Jambi tidak berbeda dengan bahasa-bahasa yang lain, yaitu berkedudukan sebagai bahasa daerah yang masih berkembang serta masih dipakai oleh penuturnya sebagai bahasa pengantar dalam berkomunikasi ataupun berinteraksi”.

Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang pada umumnya dipakai oleh masyarakat sebagai bahasa pengantar atau sebagai alat berkomunikasi pada situasi resmi maupun tidak resmi. pemakaian bahasa tersebut diaplikasikan dalam berbagai lapisan masyarakat strata sosial, adat istiadat serta budaya setempat (Dahlan dalam Rustam, 2005: 1)

Bahasa Melayu Jambi juga turut berperan serta dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia, terutama dari segi kosakata. Begitu pula halnya dengan masyarakat di Rantau Embacang yang memakai bahasa Melayu Jambi sebagai alat berkomunikasi dengan sesama masyarakat penutur aslinya di samping bahasa Indonesia. bahasa itu sendiri sangat kuat kedudukannya baik sebagai bahasa pergaulan maupun sebagai bahasa kebudayaan daerah.

Berdasarkan alasan dan observasi yang peneliti lakukan, peneliti tertarik meneliti tentang “afiksasi BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang” yang mana penelitian ini belum pernah diteliti hal ini terbukti belum ditemukannya skripsi yang mengkaji tentang afiksasi Verba BMJ dalek Bungo di Rantau Embacang. Penelitian ini bertujuan untuk membina, melestarikan dan sekaligus mengembangkan BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang. Salah satu upaya yang dilakukan peneliti untuk melestarikan, membina dan mengembangkan BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang, dalam penelitian ini peneliti berupaya mendeskripsikan proses afiksasi verba BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti ungkapkan maka masalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana proses afiksasi verba dalam BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang?

2. Berapa jumlah afiks yang terdapat dalam verba yang ada dalam BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mendokumentasikan secara jelas:

1. Proses afiksasi verba dalam BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang?

2. Jumlah afiks yang terdapat dalam verba di dalam BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang?

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian tentang afiksasi verba bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang ini, diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak, baik manfaat teoritis maupun praktis.

1.4.1 Manfaat Teoritis

a. Untuk mengembangkan teori kebahasaan yang berkaitan dengan kajian linguistik, khususnya tentang proses afiksasi BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang.

b. Menambah khasanah kepustakaan bahasa Nusantara, khususnya BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang.

1.4.2 Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini diharapkan bermanfaat:

a. Bagi para penutur BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang, penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan untuk menambah pengetahuan tentang bahasa daerah yang mereka miliki.

b. Bagi mahasiswa ataupun pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian serupa, hal ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya.


BAB lI

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Morfologi

Berikut ini adalah beberapa pengertian morfologi menurut para pakar bahasa. Menurut (Alwasiah dalam Muslim 1993:110) mengemukakan bahwa “morfologi adalah cabang dari ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, klasifikasi kata-kata”. Lebih jauh dijelaskannya morfologi perubahan bentuk (kata) menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda, apabila tanpa perubahan itu makna yang berbeda itu tidak akan terlahirkan. Sementara itu menurut (Nida dalam Muslim 1949:1) menjelaskan bahwa “morfologi merupakan studi tentang morfem dan susunan-susunannya didalam bentuk kata”. Morfem adalah unit makna terkecil yang terdapat didalam kata atau bagian kata, susunan morfem adalah susunan kata atau bagian dari kata. Kombinasi dari kata kedalam frase dan kalimat kedalam sintaktis. Kemudian menurut (Ramlan dalam Muslim 1978:32) menjelaskan “morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari seluk beluk pembentukan kata dan mempelajari adanya arti sebagai akibat perubahan golongan’’. Ramlan mengemukakan bahwa dalam proses morfologi dibagi kedalam tiga mcam yaitu: (1) proses pembubuhan afiks. (2) proses pengulangan, dan (3) poses pemajemukan. Sejalan dengan itu (Verhaard dalam Muslim 2000.97-98) menjelaskan “morfologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan-satuan gramatikal”. Dicontohkan di sini seperti kata berhak yang dijelaskan terdiri dari dua satuan minimal yaitu ber dan hak dan kedua satuan minimal itu dinamakan morfem. Selanjutnya (Sudaryanto, dkk Muslim 1992:16-21) menjelaskan bahwa “mofologi adalah proses pengubahan kata dan pengubahan ini memiliki tiga keistimewahan yakni: (1) adanya keteraturan pengubahan dengan alat yang sama. (2) menimbulkan komponen maknawi yang baru pada kata ubahan yang duhasilakan akiat adanya unsur pembentuk kata baru. (3) kata baru sebagai hasil bersifat polimorfemis karena berunsurkan lebih dari satu morfem (satu satuan terkecil bermakna)". Dicotohkan di sini bahwa pengubahan dari desa ke ndesa dalam tuturan ‘bocah ndesa’ bukan termasuk proses morfologis karena tidak temasuk kedalam tiga keistimewaan (persayaratan) di atas. Akan tetapi perubahan dari dobos ‘bual’ ke ndobos ‘pembual’ disebut proses morfologis karena di samping memiliki persyaratan di atas juga memiliki sifat keteramalan.

Karena penelitian ini berjudul “afiksasi verba bahasa Melayu Jambi dealek Bungo di Rantau Embacang” maka peneliti memfokuskan kajian pustaka ini menjelaskan tentang afiks dan verba.

2.2 Pengertian afiks dan afiksasi

2.2.1 Pengertian Afiks

Berikut ini adalah beberapa pengertian afiks menurut para pakar. Menurut M. Ramlan (1987:55) “Afiks ialah suatu gramatikal terikat yang didalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru”. Dan menurut Alwi, dkk (2003:31) afiks adalah “bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata”. Selanjutnya Chaer (1994:177) menyatakan “afiks merupakan sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam sebuah proses pembentukan kata”. dan diperjelas oleh Kridalaksana (1999:3) afiks merupakan “bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya”. Berdasarkan beberapa pengertian afiks di atas maka dapat disimpulkan afiks yaitu ambuhan yang disisipkan disebuah kata dasar atau bentuk leksikal penempatanya bisa di awal,di tengah dan di akhir.

2.2.2 Pengrtian Afiksasi

Berikut ini adalah beberapa pengertian afiksasi menurut para pakar. Menurut Chaer (1994:177) “afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar, afiksasi adalah proses penambahan afiks pada sebuah kata dasar berupa morfem terikat dan dapat ditambahkan pada awal kata”. Kemudian diperjelas oleh Yasin (1987:50) afiksasi ialah proses pembubuhan afiks pada suatu bentuk baik berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Berdasarkan beberapa pengertian yang afiksasi yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan afiksasi yaitu sebuah proses penambahan afiks di dalam kata dasar dan penambahan afiks tersebut bisa saja menyebabkan pembubuhan pada kata dasar.


2.3 Ciri-ciri Afiks

Ciri-ciri afiks menurut Yasin (1987:53) adalah sebagai berikut:

1) Afiks menurut unsur langsung

Afiks merupakan kata bembentuk kata-kata dismpin unsur lain.

contoh:

ber + lari

me + pukul

di + pukul

= berlari

= mepukul

= dipukul

Unsur langsung pembentuk kata-kata baru


2) Afiksasi merupakan unsur terikat

Sebagai unsur pembentuk kata-kata baru, afiks merupakan imbuhan dan bukan bentuk dasar. Sebagai merfem afiks merupakan morfem terikat.

ber

me

pe

ter

contoh:

Adalah bentuk terikat yang tidak mempunyai arti apa-apa sebelum mengikatkan diri pada bentuk lain.


3) Afiks mampu melekat pada berbagai bentuk

contoh: sebagai afiks. “an” mampu melekat pada berbagai bentuk kata.

makan + -an makanan

minum + -an ninuman

tulis + -an tulisan

gambar + -an gambaran

Namun ada afiks tertentu yang hanya mampu melekat pada kata-kata tertentu. Afiks yang demikian disebut afiks improduktif/tidak produktif.

contoh: /man/ + budi = budiman

/man/ + seni = seniman

4) Afiks tidak bermakna leksis

Contoh:

Apakah makna “ber”?

Apakah makna “ter”?

Apakah makna “me”?

Kita tidak dapat ;menjawab pertanyaan di atas. Hal ini berbeda dengan pernyatan di bawah ini:

Apakah makna “ber” pada kata “berbaju”?

Apakah makna “ter” pada kata “tertinggal”?

Apakah makna “me” pada kata “memukul”?

Kedua kelompok bentuk pertanyaan di atas membuktikan bahwa afiks (ber, ter, me dan sebagainya). Tidak mempunyai makna leksis sebelum melekat pada unsur lain.

5) Afiks Mampu Mendukung Fungsi Gramatikal

Contoh Malas + ke-an kemalasan

Bodoh + ke-an Kebodohan

Pandai + ke-an kepandaian

6) Afiks Mampu Mendukung Fungsi Semantik

Funsi disini maksudnya dilihat dari segi makna yang muncul.

Contoh: morpem /ter/-/ pada kalimat di bawah ini.

Dinda termasuk anak terpandai dikelas

Ani masuk rumah sakit karena tertabrak mobil saat menyeberang jalan

7) Kedudukan Afiks Tidak Sama Dengan Preposisi

Dalam bentuk dari beberapa afiks seiring dikacau dengan preposisi (kata depan) yang kebetulan bentuk hurupnya sama. Bentuk ke dan di pada ketua dank e rumah serta dipukul dan di rumah berbeda. Perhatikan contoh dibawah ini:

ketua = ke + tua

dipukul = di + pukul

afiks: jika berdiri sendiri tidak makna leksi.

Propesisi: jika berdiri sendiri akan mempunyai makna leksi.

Ke dan di sebagai propesi mengandung makna leksi. Menunjukan keterangan tempat/tujuan. Secara gramatis ke dan di sebagai preposisi mempunyai sipat bebes (berdiri sendiri).


2.4 Jenis-jenis dan Bentuk Afiks

Dalam proses morfologis bahasan Indonesia terdapat beberapa macam afiks. Adalah sebagai berikut:

2.4.1 Prefiks

Berikut ini adalah beberapa pengertian prefiks menurut para pakar. Menurut Chaer (1994:178) “prefiks adalah afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar”. Kemudian menurut Keraf (1984:94) mengatakan “prefiks adalah suatu unsur yang secara struktural diikatkan didepan sebuah kata dasar dan bentuk dasar (kata dasar) prefiks juga disebut dengan awalan. Selanjutnya menurut Kridalaksana (2008:198) mengatakan “prefiks ialah afiks yang ditambahkan pada bagian depan pangkal”. berdasarkan beberapa pengertian prefiks menurut para pakar di atas maka dapat disimpulkan prefiks adalah awalan yang berupa imbuhan yang dilekatkan pada dasar kata. prefiks terdiri dari /meng-/, /ber-/, /di-/, /ter-/, /per/.

Misalanya:

/meng/ + goreng menggoreng

/men/ + dorong mendorong

/me-/ + rebut merebut

/ber/ + sepeda bersepeda

/ber/ + ragam beragam

/di/ + tampar ditampar

/di/ + cukur dicukur

/di/ + tendang ditendang

/pe/ + lari pelari

/pe/ + malas pemalas

/pe/ + tugas petugas

/per/ + budak perbudak

/per/ + halus perhalus

/per/ + besar perbesar

/ter/ + jual terjual

/ter/ + miskin termiskin

/ter/ + bawa terbawa

2.4.2 Infiks

Berikut ini adalah beberapa pengertian infiks menurut para pakar. Menurut Chaer (1994:178) “infiks adalah afiks yang di imbuhkan ditengah bentuk dasar”. Kemudian diperjelas lagi oleh Kridalaksana (2007:28) “infiks adalah afiks yang diselipkan kedalam”. Berdasarkan beberapa pengertian infiks menurut para pakar di atas maka dapat disimpulkan bahwa infiks merupakan imbuhan yang diletakkan ditengah-tengah kata dasar. Infiks terdiri dari /-er/, /-em/, /-er/.

Misalnya:

suling + /-er/ seruling

sabut + /-er/ serabut

gigi + /-er/ gerigi

tali + /-em/ temali

kuning + /-em/ kemuning

tanggung + /-em/ temanggung

sidik + /-el/ selidik

patuk + /-el/ pelatuk

tunjuk + /-el/ telunjuk

2.4.3 Sufiks

Berikut ini adalah beberapa pengertian sufiks menurut para pakar. Menurut Chaer (1994: 178) “sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar”. Kemudian menurut Keraf (1984: 110) “sufiks adalah semacam morfem terikat yang diletakkan dibelakang suatu morfem dasar”. selanjutnya Kridalaksana (2008: 93) mengatakan “sufiks yaitu afiks yang diletakkan dibelakang dasar”. Berdasarkan beberapa pengertian sufiks menurut para pakar di atas maka dapat disimpulkan bahwa sufiks suatu imbuhan yang diletakkan diakhir kata dasar. sufiks terdiri dari /-kan/, /-an/, /-i/.

Misalnya:

sadar + /-kan/ sadarkan

ambil + /-kan/ ambilkan

lempar + /-kan/ lemparkan

kilo + /-an/ kiloan

kaleng + /-an/ kalengan

meminjam+ /-i/ meminjami

memagar + /-i/ memagari

mengulit+ /-i/ menguliti

2.4.4 Konfiks

Berikut ini adalah beberapa pengertian konfiks menurut para pakar. Menurut Chaer (1994: 179) “konfiks merupakan morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar”. Kemudian menurut keraf (1984: 115) “konfiks adalah gabungan dari dua macam imbuhan atau lebih yang bersama-sama membentuk arti selanjutnya”. Dan diperjelas oleh Kridalaksana (2008: 130) yang menyatakan “konfiks adalah afiks tunggal yang terjadi dari dua bagian yang terpisah. Berdasarkan beberapa pengertian konfiks menurut para pakar di atas maka dapat disimpulkan bahwa konfiks yaitu kata dasar yang diapit oleh dua imbuhan , diawal dan diakhir kata dasar. Konfiks terdiri dari /ke-…-an/, /per-…-an/, /pe-…-an/, /me-…-kan/

misalnya:

/ke-/ + lihat + /-an/ kelihatan

/ke-/ + dengar + /-an/ kedengaran

/ke-/ + baik + /-an/ kebaikan

/per-/ + gedungan + /-an/ pergedungan

/per-/ + sekutu + /-an/ persekutuan

/per-/ + sahabat + /-an/ persahabatan

/pe-/ + waris + /-an/ pewarisan

/pe-/ + luap + /-an/ peluapan

/pe-/ + ramal + /-an/ peramalan

/me-/ + rasa + /-kan/ merasakan

/meny-/ + sewa + /-kan/ menyewakan

/men-/ + terus + /-kan/ meneruskan

2.5 Proses Afiksasi

Berikut ini adalah beberapa pengertian afiksasi menurut para pakar. Menurut Chaer (1994:1977) “afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar”. dalam proses afiksasi terlihat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Menurut Parera (1994: 18) “proses afiksasi merupakan suatu proses paling umum dalam bahasa”. Proses afiksasi terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan atau diletakkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus berdasarkan posisi morfem terikat terdapat morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut”. Proses afiksasi dapat dibedakan atas: 1) pembubuhan depan 2) pembubuhan tengah 3) pembubuhan akhir, dan 4) pembubuhan terbagi. Kemudian diperjelas oleh Yasin (1987: 64) “proses afiksasi ialah proses pembubuhan afiks”. Dari beberapa pengertian afiksasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa afiksasi merupakan proses perubahan afiks atau morfem terikat di depan, di tengah dan di akhir bentuk dasar, sehingga membentuk kata atau pokok kata baru.


2.5.1 Prosas Prefiksasi

2.5.1.1 Proses Prefiksasi /meng-/

Prefiks /meng-/ memiliki alomorf (variasi bentuk) pada morfem lain. Variasi bentuk /meng-/ antara lain:

1) Variasi bentuk /meng-/ ialah /me-/ jika bentuk dasarnya berfonem r, 1, y Contoh:

/me-/ + rasa " merasa

/me-/ + lombat " melompat

/me-/ + nyanyi " menyanyi

2) Variasi bentuk /meng-/ ialah /mem-/ jika bentuk dasarnya berfonem /p/, /b/, /f/ Contoh:

/mem-/ + potong " memotong

/mem-/ + bawa " membawa

/mem-/ + fitnah " memfitnah

3) Variasi bentuk /meng-/ ialah /men-/ jika bentuk dasarnya berfonem d, c, j Contoh:

/men-/ + dengar " mendengar

/men-/ + cegah " mencegah

/men-/ + jahit " menjahit

4) Variasi bentuk /meng-/ ialah /menge-/ jika bentuk suku pertamanya hanya bersuku satu berfonem e


Contoh:

/me-/ + tik " mengetik

/me-/ + bom " mengebom

/me-/ + cat " mengecat

2.5.1.2 Proses Prefiksasi /ber-/

Prefiks /ber-/ memiliki alomorf (variasi bentuk) pada morfem lain. Variasi bentuk /ber-/ antara lain:

1) Variasi bentuk /ber-/ ialah /be-/ jika bentuk dasarnya berfonem r.

Contoh:

/ber-/ + acun " beracun

/ber-/+ evolusi " berevolusi

/ber-+ guna " berguna

/ber-+ air " berair

2) Variasi bentuk /ber-/ ialah /ber-/ jika bentuk suku pertamanya mengandung bunyi (-er)

Contoh:

/ber-/ + cermin " bercermin

/ber-/ + terbangan " berterbangan

/ber-/ + serta " berserta

3) Variasi bentuk ber-/ ialah /bel-/ jika melekat pada bentuk dasar ”ajar”

Contoh:

/ber-/ + ajar " belajar


2.5.1.3 Proses Prefiksasi /di-/

Awalan /di-/ tidak mempunyai alomorf (variasi bentuk). Bentuknya untuk posisi dan kondisi manapun sama saja. Hanya perlu diperhatikan adanya prefiks /di-/ sebagai awalan dan prefiks /di-/ sebagai kata depan.

Prefiks /di-/ sebagai awalan dilafalkan dan dituliskan serangkai dengan kata yang diimbuhinya. Sedangkan prefiks /di-/ sebagai kata depan dilafalkan dan dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinnya.

Contoh:

/di-/ + tangkap " ditangkap

/di-/ + perpustakaan " diperpustakaan

2.5.1.4 Proses Prefiksasi /pe-/

Prefiks /pe-/ termasuk awalan yang produktif. Pengimbuhannya dilakukan dengan cara merangkaikannya di depan kata yang diimbuhinya. Prefiks /pe-/ mempunyai enam macam bentuk, yaitu pe-, pem-, pen-, peny-, peng-, dan penge-. Aturan penggunaanya adalah:

1) /pe-/ digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan l, r, ng, seperti terdapat pada kata-kata berikut:

pelari " (kata dasar : pelari)

perawat " (kata dasar : perawat)

pengeri " (kata daras : ngeri)

2) /pem-/ digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan b, dan p. Konsonan b tetap diwujudkan. sedangkan konsonan p tidak diwujudkan tetapi disenyawakan dengan bunyi sengau dari awalan itu.

pembaca " (kata dasar : baca)

pemotong " (kata dasar : potong)

3) /pen- /digunakan dengan kata-kata yang dimulai dengan d dan t. Konsonan d tetap disenyawakan dengan bunyi sengau dari awalan itu terdapat pada kata-kata berikut:

pendengar " (kata dasar : dengar)

penarik " (kata dasar : tarik)

4) /Peny-/ digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan s; konsonan s itu tidak diwujudkan tetapi disenyawakan dengan bunyi sengau dari awalan itu terdapat kata-kata berikut:

penyair " (kata dasar : syair)

penyaring " (kata dasar : saring)

5) /Peng-/ digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan k, g, serta vocal a, i, u, e, o, terdapat kata-kata berikut:

penginap " (kata dasar : inap)

pengurus " (kata dasar : urus)

pengekor " (kata dasar : ekor)

6) /Penge-/ digunakan pada kata-kata yang bersuku satu terdapat pada kata- kata berikut:

pengetik " (kata dasar : ketik)

pengecat " (kata dasar : cat)


2.5.1.5 Proses Prefiksasi / per-/

Prefiks /per-/ mempunyai varian sama dengan prefiks /ber-/. Variasi bentuk

yang ditimbulkan sama dengan variasi bentuk /ber-/ seperti:

1) Variasi bentuk /per-/ ialah /pe-/, jika bentuk dasarnya berfonem awal /r-/

Contoh:

/per-/ + cepat " percepat

/per-/ + istri " peristri

2) Variasi bentuk /per-/ ialah /pe-/, jika bentuk dasarnya bersuku awal dengan bunyi /er-/

Contoh:

/per-/ + temak " peternak

/per-/ + kerja " pekerja

3) Variasi bentuk /per-/ ialah /pel-/, jika melekat pada bentuk dasar "ajar"

Contoh:

/per-/ + ajar " pelajar

2.5.1.6 Proses Prefiksasi /ter-/

Awalan /ter-/ termasuk awalan yang produktif. Pengimbuhannya dilakukan dengan cara mengaitkannya di muka kata yang diimbuhkannya. Prefiks /ter-/ mempunyai varian dengan variasi beberapa bentuk seperti:

1) Jika fonem awal dasarnya /r-/, maka variasi bentuk /ter-/ ialah /te-/

Contoh:

/ter-/ + rasa " terasa

/ter-/ + kejut " terkejut

2) Jika kata dasar bersuku awal dengan diakhiri fonem /r-/, maka variasi bentuk /ter- / ialah /ter-/ atau /te-/. Yang lebih sering terpakai ialah /te-/.

Contoh:

/ter-/ + perdaya " terperdaya

3) Prefiks /ter-/ tetap pada beberapa bentuk tertentu

Contoh:

/ter-/ + kaya " terkaya

/ter-/ + keras " terkeras

4) Terhadap beberapa kata tertentu /ter-/ menjadi /tel-/. mengalami proses gejala disimilasi.

Contoh:

/ter-/ + anjur " telanjur

/ter-/ + antar " telantar

2.5.2 Proses Infiksasi

2.5.2.1 Proses /-el/, /-em/, /-er/

Infiksasi /-e1-/, /-em-/, /-er-/ tidak mempunyai variasi bentuk dan ketiganya merupakan imbuhan yang tidak produktif. Artinya, tidak digunakan lagi untuk membentuk kata-kata baru. Pengimbuhannya dilakukan dengan cara menyisipkan diantara konsonan dan vokal suku pertama pada sebuah kata dasar.

Contoh:

/-el-/ + tapak " t-el-apak " telapak

/-er-/ + gigi " g-er-igi " gerigi

/-em-/ + tali " t-em-ali " temali

2.5.3 Proses Sufiksasi

2.5.3.1 Proses sufiksasi /-kan/

Sufiks /-kan/ tidak mempunyai variasi jadi untuk situasi dan kondisi manapun bentuknya sama. Pengimbuhan dilakukan dengan cara merangkaikannya dibelakang kata yang diimbuhinya. fungsi akhiran /-kan/ adalah membentuk kata kerja transitif, yang gunakan di dalam:

Contoh:

padam + /-kan/ " padamkan

lebar + /-kan/ " lebarkan

diri + /-kan/ " dirikan

2.5.3.2 Proses sufiksasi /-an/

Sufiks /-an/ menempel pada bagian belakang bentuk dasamya. Akhiran /-an/ tidak mempunyai variasi bentuk. Pengimbuhan dilakukan dengan merangkaikannya di belakang kata yang diimbuhinya.

Contoh:

garap + /-an/ " garapan

gambar + /-an/ " gambaran

semprot + /-an/ " semprotan

2.5.3.3 Proses sufiksasi /-i/

Sufiks /-i/ menempel pada bagian belakang bentuk dasamya. Akhiran /-i/ tidak mempunyai variasi bentuk. Pengimbuhan dilakukan dengan merangkaikannya di belakang kata yang diimbuhinya.

Contoh:

menangis + /-i/ " menangisi

melempar + /-i/ " melempari

memanas + /-i/ " memanasi

2.5.4 Proses Konfiksasi

2.5.4.1 Proses Konfiksasi /ke-...-an/

Imbuhan gabungan ke-...-an/ adalah awalan /ke-/ dan akhiran /-an/ yang secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar. Pengimbuahannya dilakukan secara serentak. Artinya, awalan /ke-/ dan akhiran /­an/ itu secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar. Umpamanya pada kata dasar nakal sekaligus diimbuhkan. Awalan /ke-/ + nakal + /-an/ itu sehingga langsung menjadi kenakalan. Kalau dibangunkan proses pembentukkan kata kenakalan adalah:

Ke nakal an


2.5.4.2 Proses Konfiksasi /per-...-an/

Imbuhan gabungan /per-.,an;/ adalah awalan /per-/ dan /-an/ yang secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar. Pengimbuahannya dilakukan secara serentak. Artinya, awalan /per-/ dan akhiran /-an/ itu secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar.

/per-/ + kumpul + /-an/ " perkumpulan

/per-/ + temu + /-an/ " pertemuan

/per-/ + henti + /-an " perhentian

2.5.4.3 Proses Konfiksasi /me-...kan/

Imbuhan gabungan /me-...-kan/ adalah awalan /me-/ dan akhiran /-kan/ yang secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar. Pengimbuahannya dilakukan secara serentak. Artinya, awalan /me-/ dan akhiran /­kan/ itu secara bersama-sama diimbuhkan pada sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar.

/me-/ + lupa + /-kan/ " melupakan

/men-/ + jual + /-kan/ " menjualkan

2.6 Pengertian Verba

Berikut ini adalah bebrapa pengertian verba menurut para ahli. Menurut (Keraf, 1984:64) "kata kerja secara filosofis dibatasi sebagai oleh semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku". Kemudian menurut (Nida dalam Farida, 1997:9) “verba adalah senua kata-kata yang menyatakan tindakan proses, baik secara morfologis maupun secara sintaktis”. Selanjutnya menurut (Zein dalam sinaga 1994:3) “menyatakakan bahwa kata kerja adalah semua kata yang dipakai sebagai kata suruh dalam kalimat bentuk inferatif”. kemudian diperjelas lagi oleh (Van Ophuijser 1983:116) mengatakan bahwa "verba Melayu adalah pangkal verba yang tampil secara mandiri sebagai bentuk perintah". Berdasarkan beberapa pengertian verba menurut para pakar ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa verba adalah semua kata yang menyatakan perbuatan, tindakan dan laku baik secara morfologis maupun secara sintaktis.


2.6.1 Jenis-jenis Verba

Alwi, dkk (2003:87) membedakan verba dari tiga segi, yaitu (1) verba dari perilaku semantisnya (2) verba dari segi perilaku sintaktisnya, dan (3) verba dari segi bentuknya.

2.6.1.1 Verba dari Segi Perilaku Semantis

Alwi, dkk (2003:28) menyatakan bahwa verba dari perilaku semantisnya dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu, (1) verba perbuatan, (2) verba proses, dan (3) verba keadaan.

1) Verba Perbuatan

Tiap verba mempunyai makna inheren yang terkandung didalamnya, verba lari dan belajar, dalam kalimat (1) pencuri itu lari (2) mereka sedang belajar di perpustakaan mengandung makna inheren perbuatan. Verba seperti ini biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan apa yang dilakukan oleh subjek? verba lari, misalnya dapat menjadi jawaban atas pertanyaan apa yang dilakakukan oleh pencuri itu ? begitu pila verba belajar dan beberapa verba perba perbuatan berikut dapat menjawab pertanyaan seperti di atas.

mendekat mandi

mencuri memberhentikan


2) Verba Proses

Verba mengandung makna inheren proses biasanya dapat menjawab pertanyaan apa yang terjadi pada subjek? verba meledak pada kalimat bom itu seharusnya tidak meledak. Verba proses juga menyatakan adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Membesar, misalnya menyatakan perubahan dari keadaan yang kecil ke keadaan yang lebih kcil lagi.

Beberapa contoh verba proses yang lain adalah:

Meninggal

jatuh

Kebanjiran

3) Verba Keadaan

Verba yang mengandung makna inheren keaadan umumnya tidak dapat menjawab apa yang dilakukan oleh subjek dan apa yang terjadi pada subjek serta tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat peintah. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertenntu.

Verba suka dalam kalimat orang asing itu tidak suka makanan indonesia. Mengandung makna inheren keadaan.

2.6.1.2 Verba Dari Perilaku Sintaksis

Verba dari perilaku sintakstisnya dapat dibedakan mejadi 3 (tiga) yaitu, (1) verba transitif, (2) verba intransitif, dan (3) verba berpreposisi.

2.6.1.2.1 Verba Transitif

Verba transitif adalah yang ,memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

Contoh:

(1) Ibu sedang membersihkan kamar

(2) Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur.

Pada cotoh kalimat 1 dan 2 kata membersihkan dan mencintai adalah verba transitif. Masing-masing diikuti loleh nomina atau frasa nominal, yaitu (pimpinan yang jujur kamar itu). nomina atau frasa nominal itu dapat berfungi sebagai objek yang dapat juga dijadikan subjek pada kalimat pasif, seperti

(1a) Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu

(1a) Pimpinan yang jujur pasti dicintai oleh rakyat.

1) Verba Ekatransitif

Verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Perhatikan kalimat berikut:

(3) Saya sedang mencari pekerjaan.

(4) Ibu akan membeli baju baru.

Mencari dan membeli pada kalimat (10) dan (11) adalah verba eka transitif karena kedua verba ini hanya memerlukan sebuah objek (pekerjaan dan baju baru). Obbjek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransiitif dapat diubah fungsinya sebagai subjek dalam kalimat pasif.

Contoh:

(3a) Pekerjaan sedang saya cari

(4a) Baju baru akan dibeli Ibu.


2) Verba Dwitransitif

Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.

Perhatikan contoh berikut:

5) Saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan

6) Ibu akan membelikan kakak baju baru.

Kata mencarikan dan membelikan adalah verba dwitransitif karena masing-masing memiliki objek (adik saya dan kakak) dan pelengkap (pekerjaan dan baju baru).

Sejumlah verba dwitransitif memiliki ciri semantis yang membedakan fungsi objek dari pelengkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan: ada pula verba yang dapat berstatus dwitransitif , tetapi juga ekatransitif.

3) Verba semitransitif

Verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak.

perhatikan contoh berikut:

7) Ayah sedang membaca koran.

8) Ayah sedang membaca.

Pada kalimat (7) dan (8) menunjukkan bahwa verba membaca adalah verba semitransitif karena verba itu boleh memiliki objek (koran) sepeti pada contoh, tetapi boleh berdiri tanpa objek. Jadi, objek untuk verba semitransitif bersifat manasuka.


2.6.1.2.2 Verba Intransitif

Verba Intransitiif adalah yang tidak memiliki nomina dibelakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

9) maaf pak, saya sedang mandi.

10) Kami harus bekerja keras untuk membangun negara.

11) Petani di pegunungan bertanam jagung.

Verba mandi dan bekerja adalah verba intransitif karena tidak diikuti oleh nomina jagung, tapi nomina itu bukan objek dan karenanya tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. karena itu bertanam disebut verba intransitif sedangkan jagung merupakan pelengkap.

1) Verba Intransitif berpelengkap wajib

Verba Intransitif berpelengkap wajib adalah verba intransitif yang tidak memerlukan pelengkap. Verba ini ada yang diikuti kata atau frase tertentu yang kelihatannya seperti pelengkap, tetapi sebenarnya adalah keterangan.

Perhatikan contoh dalam kalimat berikut:

12) Bibit kelapa itu tumbuh subur.

Kata subur dalam kalimat di atas bukan pelengkap melainkan keterangan. Hal ini dapat dilihat bahwa kata subur dapat diparafrasekan menjadi dengan subur .


2) Verba Intransitif berpelengkap manasuka

Verba Intransitif berpelengkap manasuka adalah verba yang berpelengkap yang dalam konteks pemakaian yang lain dapat juga tidak diikuti oleh pelengkapnya, seperti yang tampak dalam contoh berikut:

13) Makin tua makin menjadi bodoh

14) Fikiran yang di kemukakannya bernilai sosial

15) Film itu bernilai sastra

2.6.1.2.3 Verba Berpreposisi

Verba Berpreposisi ialah verba intransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu, seperti yang telah terdapat dalam kalimat berikut:

16) Kami belum tahu akan / tentang hal itu

17) Saya sering berbicara tentang hal itu

18) Safyan berminat pada musik

Verba tahu akan atau tahu tentang, berbicara tentang, berminat pada adalah verba berpreposisi. Contoh-contoh lain ialah:

Cinta pada / akan Terbagi atas

Suka akan / pada Teringat akan / pada

Terdiri atas / dari


Diantara perba berpreposisi, ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verba transitif.

Contoh:

Berbicara tentang = Membcarakan

Cinta pada / akan = Mencintai

Suka akan = Menyukai

Tahu akan / tantang = Mengetahui

Bertemu dengan = Menemui

2.6.1.3 Verba Dari Segi Bentuk

Dalam bahasa Indonesia pada dasarnya Mempunyai dua macam bentuk verba yaitu verba asal dan perba turunan.

2.6.1.3.1 Verba asal/dasar

Verba asal/dasar yaitu verba yang dapat berdiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis dan yang memiliki makna yang independen, dan tentu saja ia dapat berdiri sendiri dalam kalimat, klausa normal maupun informal. Hal itu berarti bahwa daam tataran yang lebih tinggi seperti kalusa atau pun kalimat, baik dalam bahasa formal maupun informal perba macam itu dapat dipakai. Perhatikan contoh berikut:

19) Dimana Bapak tinggal

20) Kita perlu tidur sekitar enam jam sehari?

Dalam bahasa Indonesia jumlah verba asal/dasar tidak banyak.

Contoh:

ada gugur kalah lari

bangun hancur lahir tidur

cinta pecah ikut tiba

2.6.1.3.2 Verba Turunan

Verba turunan adalah perba yang harus atau dapat memakai afiks afiks tergantung pada tingkat keformalan bahasa atau pada posisi sintaktis.

Verba tuunan dapat dibagi 5 (lima) yaitu

1) Verba turunan dasar bebas, afiks wajib

Verba turunan dasar bebas, afiks wajib yaitu verba yang dasarnya adalah dasar bebas, tetapi memerlukan afiks supaya dapat berfungsi sebagai verba.

Contoh:

darat = mendarat

layar = berlayar

lebar = melebar

2) Verba turunan dasar bebas, afiks manasuka

Verba turunan dasar bebas, afiks manasuka yaitu verba yang dasarnya adalah dasar bebas yang dapat pula memiliki afiks

Contoh:

baca = membaca

kerja = bekerja

dengar = mendengar

3) Verba turunan dasar terikat, afiks wajib

Verba turunan dasar terikat, afiks wajib yaitu verba dasarnya adalah dasar terikat yang mememrlukan afiks.

Contoh:

temu = bertemu

sua = bersua

beli = membeli

4) Verba turunan reduplikasi

Verba turunan reduplikasi adalah verba pengulangan suatu bentuk dasar.

Contoh:

lari = lari-lari

makan = makan-makan

tembak = tembak-menembak

5) Verba turunan majemuk

Verba turunan majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan suatu kata dengan kata yang lain.

Contoh:

naik, haji = naik haji

jual, beli = jual beli

jatuh, bangun = jatuh bangun


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan terhadap “Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi dielek Bungo di Rantau Embacang” adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif berarti bahwa penelitian ini benar-benar berdasarkan fakta yang ada atau penomena yang secara empiris hidup pada penuturnya ”penggunaan bahasa yang digunakan oleh penuturnya tidak mempertimbangkan benar dan salahnya” (sudaryanto, 1993:8)

Metode deskriptif kualitatif penjelasan dilakukan tidak dengan memanfaatkan angka-angka sebagai acuan, melainkan bersifat deskriptif-kualitatif. Yang dimaksud dengan rancangan deskriptif kualitatif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya. Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalis berbentuk deskripsi fenomena, tidak berupa angka-angka atau koefisin tentang hubungan antar variable. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik yang datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau sebagai mana adanya (natural setting) dengan tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan. (Chaer dalam Nilawati 1994:42-43)


3.2 Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel digunakan supaya di dalam penelitian data yang kita dapatkan akan lebil valid.

3.2.1 Populasi

Populasi adalah ” keseluruhan subjek penelitian (Arikunto,2002:115). Jadi yang menjadi populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah keseluruhan penduduk di desa Rantau Embacang.

Tabel. 1 Jumlah penduduk desa Rantau Embacang

No

Jenis Kelamin

Jumlah Populasi

1

Laki-laki

1827

2

Perempuan

1603

3

Jumlah

3430

3.2.2 Sampel

Sampel adalah ”sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Arikunto,2002:115). Di dalam penelitian ini peneliti menetapkan sampel penelitian secara random sampling, apa bila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Maka dari itu untuk sampel pada penelitian ini adalah sebagian masyarakat desa Rantau Embacang yang layak menjadi informan sesuai beberapa kriteria yang telah disebutkan didata dan sumber data di atas, keputusan ini diambil mengingat jumlah subjek lebih dari 100 orang.


3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara-cara yang dapat digunakan oleh seorang peneliti guna untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

A. Studi pustaka

Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang bersangkutan dengan literatur-literatur yang terkait dengan penelitian, sebab di dalam penelitian peneliti harus banyak membaca dengan mengkaji berbagai literatur.

B. Observasi

Metode observasi merupakan jenis penelitian dengan mengumpulkan data yang diperoleh berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan dilapangan. metode ini melakukan pengamatan-pengamatan secara langsung masyarakat yang memakai BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang.

C. Wawancara

Teknik wawancara ini merupakan teknik dengan proses melakukan dialog kecil kepada narasumber atau bisa dikatakan komunikasi secara verbal semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi berupa data-data yang merupakan bagian dari penelitian.

D. Simak dan Sadap

Teknik simak dan sadap ini berupaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang yang menjadi informan. Sedangkan teknik cakap memiliki teknik dasar berupa pancing. Karena percakapan yang diharapkan sebagai manifestasi metode cakap ini dimungkinkan muncul apabila peneliti memberi pancingan (dapat berupa daftar pertanyaan, atau apa saja secara spontanitas muncul pada proses penelitian) kepada informan untuk muncul data kebahasaan yang menjadi sumber data dalam penelitian ini, dan peneliti juga menggunakan teknik rekam dengan menggunakan tape recorder sebaagai alat untuk melengkapi data yang diperoleh dari lapangan (Sudaryanto, 1993:135). Teknik rekam ini dilakukan tanpa sepengetahuan sipenutur sumber data. Teknik rekam digunakan dengan pertimbangan bahwa data yang diteliti berupa data lisan sebagai alternatif pengumpulan data sehingga diharapkan data yang diperoleh maksimal.

3.4 Data dan Sumber Data

Menurut (Lofland dalam Nilawati 2006:35) “sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain”. Sumber data pada penelitian ini ialah bahasa Melayu Jambi yang dipergunakan oleh masyarakat Melayu Jambi di Rantau Embacang Kecematan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa data bahasa dan data bahasa lisan.

Data bahasa adalah data yang langsung diperoleh dari masyarakat setempat selaku penutur yang menetap di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo. Data ini merupakan data utama dalam penelitian ini, data diperoleh dari beberapa orang informan yang dapat dipercaya dan dianggap telah mewakili masyarakat yang memakai bahasa Melayu Jambi di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo.

Data bahasa lisan di peroleh dari dua macam informan yang menggunakan Bahasa Melayu Jambi dalam tuturan bahasa sehari-hari. Dua macam informan itu terdiri dari informan kalangan adat atau tuo-tuo taganai dan informan dari masyarakat daerah tersebut sebagai pelengkap.

Adapun syarat-syarat yang dapat dipergunakan membentuk layak atau tidaknya seorang menjadi informan menurut (Samarin. 1988:55-63) antara lain:

a) Umur dari 30 sampai 50 tahun. Merupakan hal penting bagi paneliti karena memiliki informan-informan yang benar-benar dianggap mewakili dari masyarakat bahasa, maka ia harus mencari orang yang betul-betul sepenuhnya berpengalaman dalam soal ini. Umur muda pada umumnya tidak memungkinkan menjadi seorang informan karena kurangnya pengalaman dari mereka juga tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh pertanyaan pancingan sipeneliti.

b) Mutu kebudayaan dan psikologi merupakan seseorang informan yang sungguh-sungguh pandai dalam masyarakat sendiri tentang kegiatan-kegiatan yang dasar dan nilai-nilai masyarakat merupakan bukti yang menunjukan kepandaian yang rendah atau pengakultrasian.

c) Kewaspadaan. Merupakan hal yang perlu diperhatikan seorang untuk menaruh perhatian dalam memberi informan dan yang tidak mudah terganggu baik oleh lingkungan maupun oleh pikiran-pikiran yang melintas sekilas.

d) Bahasa yang dipakai oleh informan yang di pilih hendaknya seseorang penutur asli dari bahasa dialek yang sedang dipelajari. Dalam beberapa hal orang dapat memahamkan bahwa informan itu hendak seseorang yang berbahasa atau berdialek tunggal, sebab pada tempat-tempat ditemukanya kontak antar dari beberapa bahasa atau dialek, orang akan dapat berbuat kesalahan memilih seseorang yang ucapannya memperlihat akibat dari banyaknya gangguan bahasa atau dialek lainnya.

3.5 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode kajian distribusional (distribusi berarti gabungan, jadi distribusional berarti menggabungkan). Yaitu metode yang memakai alat penentu di dalam bahasa itu sendiri. Metode distribusional atau metode agih (istilah Sudaryanto), yaitu menganalisis sistem bahasa atau keseluruhan kaidah yang bersifat mengatur di dalam bahasa berdasarkan perilaku atau ciri-ciri khas kebahasaan satuan-satuan lingual tertentu.

Teknik-teknik analisis yang tercakup dalam metode distribusional antara lain dapat berupa:

1) Teknik Urai Unsur Terkecil 'Ultimate Constituent Analysis' (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil dimaksudkan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut "morfem".

Contoh :

Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.


2) Teknik Pilah Unsur Langsung 'Immediate Constituent Analysis' (ICA)

Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil, yaitu memilah atau mengurai suatu konstruksi tertentu (morfologis atau sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya.

Contoh: Ia pergi ke Jogja ("ia", 'pergi", dan "ke Jogja").

3) Teknik Lesap (delisi)

Teknik delisi adalah suatu unsur atau suatu satuan lingual yang menjadi unsur dari sebuah konstruksi (morfologis atau fraseologis) dilesapkan atau dihilangkan serta akibat-akibat struktural apa yang terjadi dari pelesapan itu. Teknik ini pada hakekatnya adalah pengurangan unsur dari sebuah konstruksi. Contoh:

Tadi pagi, ia pergi ke Jogjakarta.

Konstruksi "pergi ke Jogjakarta", apakah unsur "ke" pada contoh di atas bersifat wajib atau tidak. Bila "ke" dihilangkan maka akan menjadi: "pergi Jogjakarta".

4) Teknik Ganti (substitusi)

Teknik ganti (substitusi) yaitu menyelidiki adanya kepararelan atau kesejajaran distribusi antara satuan lingual atau antara bentuk linguistik yang satu dengan satuan lingual lainnya.


Contoh:

”Mereka pergi ke sekolah”, dan ”Amin pergi ke sekolah”

Kata "Mereka" sekelas sekategori, dan sejenis dengan kata "Amin", maka pernyataan itu berdasarkan fakta bahwa dalam satuan kalimat dan kekata tertentu keduanya saling menggantikan atau saling digantikan,

5) Teknik Perluas (ekspansi)

Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual tertentu (yang dikaji atau yang dibahas) dengan "unsur" satuan lingual tertentu baik perluasan ke kiri atau ke kanan. Teknik berguna untuk: (a) mengetahui identitas satuan lingual tertentu, dan (b) mengetahui seberapa jauh satuan lingual yang dikaji itu dapat diperluas baik ke kiri maupun ke kanan.

Contoh :

"Rumah baru dapat diperluas menjadi "rumah [yang] baru", "dalam rumah baru", "dalam sebuah rumah baru", "di dalam rumah yang baru", dan sejenisnya.

6) Teknik Sisip (interupsi)

Teknik sisip adalah kemungkinannya menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual tertentu terhadap suatu konstruksi yang sedang kita analisis.

Contoh :

Orang besar, bisa disisipi "yang" atau "yang agak", orang [yang] besar, orang [yang agak] besar, dan seterusnya.


7) Teknik Balik (permutasi)

Teknik balik ialah kemungkinannya unsur-unsur (langsung) dan sebuah satuan atau konstruksi (morfologis atau fraseologis) dibalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan menguji tingkat kedekatan relasi antarunsur (langsung) suatu konstruksi atau satuan lingual tertentu.

Contoh:

1. Bir baru, berbeda dengan "baru bir".

2. Ali memukul Norton, berbeda dengan "Norton memukul Ali".

Frase "bir baru" yang termasuk frase endosentris atributif benar-benar berbeda dan "baru bir" (belum produksi yang lain) yang dipakai dalam konstruksi mempertentangkan. Kalimat Ali memukul Norton, berbeda dengan Norton memukul Ali, karena kalimat pertama Ali berperan sebagai agentif (pelaku) dan Norton sebagai pasientif (penderita), sedangkan dalam kalimat kedua Norton berperan sebagai agentif (pelaku) dan Ali sebagai pasientif (penderita). Konstruksi ini tidak gramatikal. Maka "ke" tersebut bersifat wajib. (http://sarjoni.wordpress.com/2010/05/06/metode-penelitian-tafsir-struktural/C.)

Teknik analisis dimulai dari data bentuk Afiksasi Verba bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang dipakai top down yang dipergunakan yaitu dengan memakai teknik menurun. Metode kajian distribusional manggunakan teknik bagi unsur langsung sebagai teknik dasar yaitu membagi satuan lingual (data) dengan cara melesapkan atau membagi satuan lingual menjadi beberapa bagian atau unsur, dalam penelitian ini satuan lingual yang dimaksud ialah afiks.

Contohnya:

bertemu

bertemu

ber-

temu


prefiks bentuk dasar

Begitu pula dengan bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang, misalnya:

balaRian

berlarian


ba-

-an

laRi

prefiks bentuk dasar sufiks


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan hasil penelitian tentang afiksasi verba bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di desa Rantau Embacang, maka peneliti menemukan ada beberapa bentuk afiks dalam verba yang terdapat di dalam bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang yaitu:

4.1.1 Prefiks

Prefiks yang tedapat dalam verba pada bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, yaitu Prefiks /N-/ba/,/sa-/,/ta-/,/pa-/,/da-/. Secara umum prefiks Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas hampir sama dengan Bahasa Indonesia atau prefiks yang ada dalam Bahasa Indonesia. Prefiks /N-/ mempunyai alomorf yaitu /ŋ-/dan/ŋa-/. Perubahan bentuk ini tergantung pada kondisi dasar yang dilekatinya. Contoh: Prefiks /N-/ Nyalo, ŋalitek. Prefiks /ba-/ baparau, bakumpuk, backak. Prefiks /sa-/ sagәmpak, sabalek. Prefiks /ta-/ tapikul, tatidou, tacipak. Prefiks /pa-/ mempunyai alomorf yaitu /pam-/ pamaling, pangicuh, pajudi. Prefiks /da-/ daambik, dapangkou.


4.1.2 Sufiks

Sufiks dalam verba bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, yaitu /kan/ Secara umum sufiks Bahasa Melayu Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas hampir sama dengan Bahasa Indonesia. Contoh: Sufiks /-kan/ nikamkan.

4.1.3 Konfiks

Bentuk konfiks dalam verba bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo, yaitu /pa-…-an/, /ba…-an/, /ka-…-an/. Secara umum bentuk konfiks Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas hampir sama dengan Bahasa Indonesa. Contoh: Konfiks /pa-…-an/ pamukulan, konfiks / ba-…-an/ bamarahan, bamusuhan. Konfiks / ka-…-an/ kaujanan.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah pada latar belakang yaitu bagaimana proses afiksasi dalam verba bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang. Berikut adalah proses afiksasi yang tedapat dalam verba pada bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang.


4.2.1 Prefiks

1. Prefiks/ N-/

Prefiks/N-/ memiliki alomorf (variasi bentuk) pada morfem lain.Variasi bentuk / Ŋ-/ yaitu :

Variasi bentuk /N-/menjadi/ŋ-/bila dasar yang dilekatinya berfonem awal u, c, i.

Ŋubat

Contoh Prefiks /ŋ-/dalam teknik top down.

Mengobat

ŋ-

ubat


Prefiks Bentuk Dasar

Ninek sdang ŋubat orang sakit.

Nenek lagi mengobati orang yang sedang sakit

Selanjutnya contoh dari prefik /ŋ-/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan :

(1) /N-/ + ubah à ŋubah ‘mengubah’

Mak ŋubah baju yang kebesaran tadi tu.

Ibu lagi merubah baju yang kebesaran tadi.

(2) /N-/ + ikut à ŋikut ‘mengukut’

Mak, ngan ŋikut kamu kumo yoh?

Ibu, saya ikut ibu ke lading ya ?

(3) /N-/ + litek à /ŋalitek-/ ‘gemetar’

Kaki ngan ŋalitek sudah maen bal tadih.

Kaki saya gemetaran setelah main bola kaki tadi.

(4) /N-/ + cau à /ŋacau-/ ‘mengganggu’

ŋacau bae wongkoh!

mengganggu saja kamu ini!

2. Prefiks/ ba-/

Berdasarkan hasil penelitian Presiks /ba-/ diletakan pada dasar yang berfonem awal apapun tidak berubah bentuk.

Contoh Prefiks /ba-/dalam teknik top down.

backak

Berkelahi

ba-

ckak


Prefiks Bentuk Dasar

Di dudun ado uRang backak.

Di dusun ada orang berkelahi.

Selanjutnya contoh dari prefiks /ba-/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan.


(1) /ba-/ + lambun à balambun ‘banyak sekali’

Balambun baju kubang.

Banyak sekali baju yang kotor.

(2) /ba-/ + kumpul à bakumpul ‘berkumpul’

Malam isuk kito galonyo bakumpul di Kantor Rio.

Besok malam kita semuanya berkumpul di Kantor Lurah.

(3) /ba-/ + parau à baparau ‘bersampan’

Cik baparau ka ilə

Paman bersampan ke ilir.

(4) /ba-/ + ckak à backak ‘berkelahi’

Malam tadih ado uRang backak di acara organ.

Tadi malam ada orang berantam di acara pertunjukan music organ tunggal.

(5) /ba-/ + tduh à batduh ‘berteduh’

Kami bateduh bawah balai karno ujan agi lbat nain.

Kami berteduh di bawah pondok karena hujan masih lebat sekali.

(6) /ba-/ + gbut à bagbut ‘berebut’

Tadi ado ughang bagbut sambako mughah.

Tadi ada orang berebutan sembako murah.

(7) /ba-/ + laghi à balaRi ‘berlari’

Anton balaRi manuju sekulah karno takut talambek.

Anton berlari menuju sekolah karna takut telambat.


3. Prefiks /ta-/

Berdasarkan hasil penelitian Prefiks/ ta-/ diletakan pada dasar yang berfonem awal apapun tidak berubah bentuk.

Contoh : Prefiks /ta-/ dalam teknik top down.

tabuRu-buRu

Terburu-buru

ta-

buRu


Prefiks Bentuk Dasar

tabuRu nian upik kau tadih pgi karjo.

Terburu-buru sekali ayuk kamu tadi pergi kerja

Selanjutnya contoh dari prefiks /ta-/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan :

(1) /ta-/ + pikul à tapikul “terpikul’

tapikul dak kayu ko wek kamu.

Kayu ini terpikul tidak oleh mu?

(2) /ta-/ + tidou à tatidou ‘tertidur’

tatidou nyo di sanok.

tertidur dia di sana.

(3) /ta-/ + cipak à tacipak ‘tersepak’

Kaki ngan tacipak batu.

Kaki saya tersepak batu.

(4) /ta-/ + cucuk à tacucuk ‘tertusuk’

Tunjuk ngan tacucuk jarum.

Jari telunjuk saya tertusuk jarum.

(5) /ta-/ + pijak à tapijak ‘injak’

Anton tajatuh deteh duku karno tapijak dan mati.

Anton terjatuh di atas pohon duku karena terinjak dahan mati.

(6) /ta-/ + jatuh à tajatuh ‘jatuh’

Anton tajatuh dari pohon duku.

Anton terjatuh di atas pohon duku.

(7) /ta-/ + guling à taguling ‘tersungkur’

Pik, ado budak taguling di lakang umah kamu, dido ntu anak sepo.

Yuk, ada anak kecil tersungkur di belakang rumah ayuk, saya tidak tahu anak siapa yang jatuh itu.

(8) /ta-/ + nangih à tanangih ‘nangis’

Cubo imak, tanangih budah tu dicagil wek kawan.

Coba lihat akaibat perbuatan mu, sampai nangis anak kecil itu.

4. Prefiks /sa/

Berdasarkan hasil penelitian prefiks /sa-/ diletakan pada dasar yang berfonem awal tidak berubah bentuk.


Contoh Prefik /sa-/ dalam teknik top down

Sasampainyo

sampainya

Sa-

Sampai


Prefiks Bentuk Dasar

Sasampainyo di rumah ngan lansung tidou.

Setelah sampai di rumah saya langsung tidur.

Selanjutnya contoh dari prefiks /sa-/ yang lain dari teknik top down tanpa mengunakan bagan:

(1) /sa-/ + tibo à satibo ‘tiba’

satibonyo di kebun cik lansung mutong parah.

Setelah tiba di kebun paman langsung menyadap karet.

(2) /sa-/ + gempak à sagempak ‘barengan’

sagempak bae kito bagangkat ka jambi.

Barengan saja kita berangkat ke jambi.

(3) /sa-/ + tidou à satidou ‘setidur’

satidou kawan dengan Hasan malam tadih.

Bersama Hasan kamu tidur tadi malam?.


(4) /sa-/ + balek à sabalek ‘pulang’

sabaleknyo daRi umo mak lansung pgi kayək mandi.

Setelah pulang dari sawah ibu langsung pergi mandi.

(5) /sa-/ + pinggan à sapinggan ‘piring’

Malam tadih makan Sapinggan karno dido cukup nasi gih untuk baduo.

Tadi malam makan satu piring karena tidak cukup nasi lagi untuk makan berdua.

(6) /sa-/ + bantal à sabantal ‘sebantal’

Tapakso sabantal tidou malam ko, maklum anak kos.

Terpaksa satu bantal kita tidur malam ini, maklum anak kosan.

(7) /sa-/ + makan à samakan ‘makan’

Samakan bae awak malam kagit.

Barengan saja kita makan nanti malam.

5. Prefiks / pa/

Berdasarkan hasil penelitian prefiks /pa-/ diletakan pada dasar yang berfonem awal tidak berubah bentuk. kecuali kata balap maka /pa-/ menjadi / pam-/. dengan demikian ada satu variasi bentuk /pa-/yaitu / pam-/.


Contoh Prefiks /pa-/dalam teknik top down.

pambalap

balap

pam-

balap


Prefiks Bentuk Dasar

Sepo namo pambalap yang mnang ptang tuh?

Siapa nama pembalap yang menang kemaren?

Selanjutnya contoh dari prefiks / pa-/ yang lain dari teknik top down tanpa mengunakan bagan:

(1) /pa-/ + maling à pamaling ‘pencuri’

Ati-ati banyak pamaling di bulan poso koh.

Hati-hati banyak orang yang suka mencuri dibulan ramadhan ini.

(2) /pa-/ + ngicuh à pangicuh ‘nipu’

pangicuh delah wongkoh.

Memang penipu kamu ini.

(3) /pa-/ + judi à pajudi ‘judi’

Budak bujang dusun koh rato-rato pajudi.

Pemuda kampung ini rata-rata suka main judi.


4) /pa-/ + mabuk à pamabuk ‘mabuk’

Budak bujang dusun koh rato-rato pamabuk.

Pemuda kampung ini rata-rata suka minum minuman keras.

(5) /pa-/ + kebut à pangәbut ‘kebut’

Budak kini lah pagebut galonyo bahonda.

Anak-anak sekarang suka kebut-kebutan semuan bawa motor.

(6) /pa-/ + mokok à pamokok ‘rokok’

Pamokok wangkoh awak agi kcik.

Jangan merokok kamu masih kecil.

(7) /pa-/ + kebut à pangәbut ‘kebut’

Budak kini lah pagebut galonyo bahonda.

Anak-anak sekarang suka kebut-kebutan semuan bawak motor.

6 Prefiks /da/

Berdasarkan hasil penelitian prefiks /da-/ diletakan pada dasar yang berfonem awal tidak berubah bentuk.

dabeli

Contoh Prefiks /pa-/dalam teknik top down.

dibeli

da-

beli


Prefiks Bentuk Dasar

lah dabeli lom psanan ngan wek kawan tadih?

Sudah dibeli apa belum pesanan saya tadi?

Selanjutnya contoh dari prefiks / pa-/ yang lain dari teknik top down tanpa mengunakan bagan:

(1) /da-/ + ambik à daambik ‘ambil’

lah daambik apo blum baju ngan tadih?

Sudah diambil baju saya tadi?

(2) /da-/ + maling à damaling ‘dicuri’

Gtah ngan lah damaling uRang.

Karet saya dicuri orang.

(3) /da-/ + laRi à dalaRi ‘dilari’

Ngan dapek carito cewek kawan lah dalaRi uRang?

Saya dapat kabar pacar kamu dilarikan orang?

(4) /da-/ + cubo à dacubo‘dilcoba’

Lah dacubo lom handa baRu kawan tuh?

Sudah dicoba motor baru kamu?

(5) /da-/ + pangko à dapangko ‘dicangkul’

Lah dapangko umo kamu?

Sudah dicangkul sawah kamu?

4.2.2 Sufiks

1. Sufiks/-kan/

Berdasarkan data hasil penelitian/-kan/ tidak mengalami bentuk walaupun diawali fonem apapun saja dengan demikian sufiks/-kan/ tetap.


Tanakkan

Contoh sufiks/-kan/ dalam metode top down

masakkan

Tanak

-kan


Bentuk dasar sufiks

Tanakkan nasi tuh kagit ayah balek ndak makan.

Masakkan nasi itu karena bentar lagi ayah pulang mau makan.

Selanjutnya contoh dari sufiks /-kan/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan:

(1) kbek + /-kan/ à kbekkan ‘ikatkan’

Tolong kbekkan gambut adik koh.

Tolong ikatkan rambut adek ini.

(2) kcik + /-kan/ à kcikkan ‘kecilkan’

Pik, tolong kcikkan suaro tivi tu.

Yuk, tolong kecilkan volume televisi itu.

(3) tamok + /-kan/ à tamok ‘tamokkan’

Mak, tamokkan minyak ke kuali

Ibu, tumpahkan minyak ke kuali

(4) tutup + /-kan/ à tutupkan ‘tutupkan’

Hari lah magrib tutupkan pintu tu!

Hari sudah senja tutupkan pintu itu!

(5) bagih + /-kan/ à bagihkan ‘kasihkan’

Nak, tolong bagihkan sen ko ka itek.

Nak, tolong kasihkan uang ini ke tante.

(6) mbuih + /-kan/ à mbuihkan‘tiupkan’

Tolong mbuihkan mato ngan koh.

Tolong tiupkan mata saya ini.

(7) gdang + /-kan/ à gdangkan ‘besarkan’

gdangkan dikit pinggang calano ko.

Besarkan sedikit pinggang calana ini.

(8) karjo + /-kan/ à karjokan ‘kerjakan’

Karjokan tugas sakulah tuh jangan ndak busik-busik bae.

Kerjakan tugas sekolah itu jangan maen-maen terus.

(9) kalua + /-kan/ à kaluakan ‘dikeluarkan’

Anton dikaluakan dari sakulah karno lah tigo kali masuk buku itam.

Anton dikeluarkan dari sekolah karena sudah tiga kali melanggar peraturan sekolah.

2. Sufiks/-an/

Mengenai verba berakhiran /-an/, sesuai kata yang terkumpul tidak banyak ditemukan didalam bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo. Selain kata larian ‘‘lari”.


4.2.3 Konfiks

1. Konfiks/ pa-…-an/

berdasarkan data hasil penelitian bahwa konfiks /pa-…-an/. Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo tidak mengalami perubahan bentuk, walaupun diawali fonem apapun tidak terjadi proses alomorf.

Contoh Konfiks /pa-…-an/ dalam metode top down

patemuan

temu

-an

pa-


Prefiks Bentuk Dasar Sufiks

malam kagit Rio ndak mengadokan patemuan dengan Camat .

Nanti malam Kepala Desa akan mengadakan pertemuan dengan Camat.

Selanjutnya contoh dari Konfiks /pa-…-an/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan:

1) /pa-…-an/ à pakumpulan ‘perkmpulan’

Pakumpulan pemuda Rantau Embacang ndak mangadokan acara.

Perkumpulan pemuda Rantau Embacang mau mengadakan acara.

2. Konfiks /ba-…-an/

berdasarkan data hasil penelitian bahwa konfiks /ba-…-an/. Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo tidak mengalami perubahan bentuk, walaupun diawai fonem apapun tidak terjadi proses alomorf.

Contoh Konfiks / ba-…-an/ dalam metode top down

-an

tarbang

batarbangan

Beterbangan

ba-


Prefiks Bentuk Dasar Sufiks

Burung tuh batarbangan waktu dialau.

Burung itu beterbangan ketika diusir.

Selanjutnya contoh dari Konfiks /ba-…-an/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan:

(1) /ba-…-an/ + maRah à bamangahan ‘bermarahan’

Ngapo kamu baduo ko bamaghahan trus dido parnah babaek

Apa yang menyebabkan kalian berdua saling marahi terus.

(2) /ba-…-an/ + snap à basnapan ‘berdiaman’

Ngapo kamu baduo tuh basnapan bae.

Kenapa kalian berdua sama-sama diam saja.

Konfiks /ba-…-an/ yang melekat pada bentuk dasar sepertinya sangat terbatas. Dalam penelitian ini peneli tidak menemukan verba turunan dalam bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal ini.


3. Konfiks /ka-…-an/

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa konfiks /ka-…-an/. pada bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo tidak mengalami perubahan bentuk, walaupun diawali fonem apapun tidak terjadi proses alomorf.

Contoh Konfiks / ka-…-an/ dalam top town:

-an

ujanan

kaujanan

kehujanan

ka-


Prefiks Bentuk Dasar Sufiks

Dede, kaujanan pgi kasukulah tadih.

Dede, kaujanan pergi kesekolah tadi.

Selanjutnya contoh dari Konfiks /ka-…-an/ yang lain dari teknik top down tanpa menggunakan bagan:

(1) /ka-…-an/ + suko à kasenangan ‘kesenangan’

Adək, kasukoan dəŋa lagu tu.

Adik, kesukaan dengar lagu itu.

(2) /ka-…-an/ + maling à kamalingan ‘kebagusan’

Ado umah uRang kamalingan malam tadih.

Ada ruma orang kemalingan tadi malam.


(3) /ka-…-an/ + pnat à kapnatan ‘kecapekan’

Mak, kapnatan balek dari umo.

Mak kecapekan sehabis pulang dari sawah.

(4) /ka-…-an/ + salah à kasalahan ‘kesalahan’

Memang kasalahan kau tadih tuh!

Memang kesalahan kamu tadi!.

(5) /ka-…-an/ + pnat à kapnatan ‘kecapekan’

Mak, kapnatan balek dari umo.

Mak kecapekan sehabis pulang dari sawah.

4.3 Jumlah Afiks yang Terdapat dalam Verba Pada BMJ Dialek Bungo di Desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo.

4.3.1 Prefiks

Jumlah prefiks pada Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas yaitu 6 (enam): /N-/, ba/, /sa-/, /ta-/, /pa-/,/ da-/.

4.3.2 Sufiks

Jumlah sufiks Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas yaitu 2 (dua): /kan/, /-an/.


4.3.3 Konfiks

Jumlah konfiks bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo, berjumlah 3 (enam) yaitu: /pa-…-an/,/ ba…-an/, /ka-…-an/.

Jumlah keseluruhan afiks (prefiks, sufiks, konfiks) di dalam Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang yaitu berjumlah 11 (sebelas) afiks.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan ditemukan bentuk-bentuk afiks, proses afiks, dan jumlah afiks dalam tuturan bahasa melayu Jambi pada masyarakat desa Rantau Embacang Keamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo.

A. Hasil Penelitian

Bentuk afiks pada Bahasa Melayu Jambi desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo yang terdiri dari :

(1) Prefiks yaitu:

/N-/, /ba-/, /sa-/, /ta-/, /pa-/, /da-/.

(2) Sufiks yaitu:

/-kan/, /-an/.

(3) Konfiks yaitu :

/pa-…-an/, /ba-…-an/, /ka-…-an/.

B. Proses Afiks

Proses afiks pada Bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo sebagai berikut :

(1) Proses Prefiks Bahasa Melayu Jambi ini mempunyai alomort seperti pada prefiks /N-/ menjadi /ng-/ dan /nga-/ prefiks /be-/ menjadi /ber-/ dan pada proses ini ada juga ada yang tidak memiliki alomort seperti pada prefiks /ta-/ dan /sa/ walaupun ditambah dengan fonem apapun. Berikut proses afiks menggunakan tenik top down.

Contoh :

ngubat

obat

Ng-

ubat


prefiks bentuk dasar

(2) Proses sufiks Bahasa Melayu Jambi ini tidak mempunyai alomort bila ditambah fonem apapun seperti sufiks /-kan/, /-an/ dan proses ini menggunakan teknik top down

Contoh :

karjokan

kerjakan

karjo

-kan


Bentuk Dasar sufiks

(3) Proses Konfiks Bahasa Melayu Jambi ini tidak mempunyai alomort bila ditambah fonem apapun seperti pada konfiks /pa-…-an/, /ba-…-an/, /ke-…-an/ dan proses ini menggunakan teknik top down.


Contoh :

patemuan

pertemuan

pa-

temu

-an


prefiks Bentuk dasar sufiks

C. Jumlah Afiks Yang Terdapat dalam Verba Pada BMJ Dialek Bungo di Desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo.

4.3.1 Prefiks

Berjumlah 6 (enam) yaitu: /N-/, ba/, /sa-/, /ta-/, /pa-/,/ da-/.

4.3.2 Sufiks

Berjumlah 2 (dua) yaitu: /,/kan/, /-an/.

4.3.3 Konfiks

Berjumlah 3 (enam) yaitu: /pa-…-an/,/ ba…-an/, /ka-…-an/.

Jumlah keseluruhan afiks (prefiks, sufiks, konfiks) di dalam Bahasa Melayu Jambi dialek Bungo di Rantau Embacang yaitu berjumlah 11 (sebelas) afiks.


5.2. Saran

Terselesainya penelitian ini tidak berarti permasalahan yang terkait dengan Afiksasi Bahasa Melayu Jambi di desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo selesai. Penelitian ini masih sebatas bentuk dan proses yang dihadirkan pada desa Rantau Embacang Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo. Peneliti berharap ada yang bisa melanjutkan penelitian ini ke afiksasi bahasa yang lain seperti afiksasi bahasa prokem, dan berbagai macam afiksasi bahasa yang lain diseluruh Nusantara.

Alwi, H, Dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka. Jakarta.

Chaer, A. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Collins, J. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia. KITLV. Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia.

Dahlan, S. 1985. Pemetaan Bahasa Daerah Riau dan Jambi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Fatimah Djajasudarma. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Eresco.

http://sarjoni.wordpress.com/2010/05/06/metode-penelitian-tafsir-struktural/C.

http://www.slideshare.net/Rakatajasa/2010/05/06/morfologi-dan-morfofonemik-bahasa-sumbawa-dialek-tongo

Husin, N. Dkk. 1986. Morfosintaktis Bahasa Melayu Jambi. Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pembinaan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

____________. 1985. Struktur Bahasa Melayu Jambi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Parera, Jos Daniel. 1994. Morfologi. Jakarta. Gramedia.

Ramlan, M. 1985. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. CV. Karyono. Yogyakarta

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah University Press.unja

Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik: Ke Arah Memahami Metode. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

________. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Yasin, S. 1987. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Jogyakarta: Balai Buku Satria Harapan.

LAMPIRAN

Data-data awal berdasarkan kata yang berafiks BMJ dialek Bungo di Rantau Embacang:

1 Balumbun baju kubang.

Banyak sekali baju yang kotor.

2 Malam isuk kito galonyo bakumpul di Kantor Rio.

Besok malam kita semuanya berkumpul di Kantor Lurah.

3 Cik baparau ka ilə

Paman bersampan ke hilir.

4 Malam tadih ado uRang backak di acara organ.

Tadi malam ada orang berantam di acara pertunjukan musik.

5 Kami bateduh bawah balai karno ujan agi lbat nain.

Kami berteduh di bawah pondok karena hujan masih lebat sekali.

6 Tadi ado ughang bagbut sambako mughah.

Tadi ada orang berebutan sembako murah.

7 Anton balaghi manuju sekulah karno takut talambek.

Anton berlari menuju sekolah karna takut telambat.

8 Di dudun ado uRang backak.

Di dusun ada orang berkelahi.

9 Tapikul dak kayu ko wek kamu.

Kayu ini terpikul tidak oleh mu?

10 Tatidou nyo di sanok.

Tertidur dia di sana.

11 Kaki ngan tacipak batu.

Kaki saya tersepak batu.

12 Tunjuk ngan tacucuk jarum.

Jari telunjuk saya tertusuk jarum.

13 Anton tajatuh deteh duku karno tapijak dan mati.

Anton terjatuh di atas pohon duku karena terinjak dahan mati.

14 Anton tajatuh dari pohon duku.

Anton terjatuh di atas pohon duku.

15 Pik, ado budak taguling di lakang umah kamu, dido ntu anak sepo.

Yuk, ada anak kecil tersungkur di belakang rumah ayuk, saya tidak tau anak siapa yang jatuh itu.

16 Cubo imak, tanangih budah tu dicagil wek kawan.

Coba lihat akaibat perbuatan mu, sampai nangis anak kecil itu.

17 tabuRu nian upik kau tadih pgi karjo.

Terburu-buru sekali ayuk kamu tadi pergi kerja

18 Satibonyo di kebun cik lansung mutong parah.

Setelah tiba di kebun paman langsung menyadap karet.

19 Sagempak bae kito bagangkat ka jambi.

Barengan saja kita berangkat ke jambi.

20 satidou kawan dengan Hasan malam tadih.

dekat Hasan kamu tidur tadi malam?

21 Sabaleknyo daRi umo mak lansung pgi kayək mandi.

Setelah pulang dari sawah ibu langsung pergi mandi.

22 Malam tadih makan Sapinggan karno dido cukup nasi gih untuk baduo.

Tadi malam makan satu piring karena tidak cukup nasi lagi untuk makan berdua.

23 Tapakso sabantal tidou malam ko, maklum anak kos.

Terpaksa satu bantal kita tidur malam ini, maklum anak kosan.

24 Samakan bae awak malam kagit.

Barengan saja kita makan nanti malam.

25 Sasampainyo di rumah ngan lansung tidou.

Setelah sampai di rumah saya langsung tidur.

26 Ati-ati banyak pamaling di bulan poso koh.

Hati-hati banyak orang yang suka mencuri dibulan ramadhan ini.

27 pangicuh delah wongkoh.

Memang penipu kamu ini.

28 Budak bujang dusun koh rato-rato pajudi.

Pemuda kampung ini rata-rata suka main judi.

29 Budak bujang dusun koh rato-rato pamabuk.

Pemuda kampung ini rata-rata suka minum minuman keras.

30 Budak kini lah pagebut galonyo bahonda.

Anak-anak sekarang suka kebut-kebutan semuan bawa motor.

31 Pamokok wangkoh awak agi kcik!

Jangan merokok kamu masih kecil!

32 Budak kini lah pagebut galonyo bahonda.

Anak-anak sekarang suka kebut-kebutan semuan bawak motor.

33 Sepo namo pambalap yang mnang ptang tuh?

Siapa nama pembalap yang menang kemaren?

34 Lah daambik apo blum baju ngan tadih?

Sudah diambil baju saya tadi?

35 Gtah ngan lah damaling uRang.

Karet saya dicuri orang.

36 Ngan dapek carito cewek kawan lah dalaRi uRang?

Saya dapat kabar pacar kamu dilarikan orang?

37 Lah dapangko umo kamu?

Sudah dicangkul sawah kamu?

38 Lah dabeli lom psanan ngan wek kawan tadih?

Sudah dibeli apa belum pesanan saya tadi?

39 Tolong kbatkan rambut adik koh.

Tolong ikatkan rambut adek ini.

40 Pik, tolong kcikkan suaro tivi tu.

Yuk, tolong kecilkan volume televisi itu.

41 Mak, tamokkan minyak ke kuali

Ibu, tumpahkan minyak ke kuali

42 Hari lah magrib tutupkan pintu tu!

Hari sudah senja tutupkan pintu itu!

43 Nak, tolong bagihkan sen ko ka itek.

Nak, tolong kasihkan uang ini ke tante.

44 Tolong mbuihkan mato ngan koh.

Tolong tiupkan mata saya ini.

45 Karjokan tugas sakulah tuh jangan ndak busik-busik bae.

Kerjakan tugas sekolah itu jangan maen-maen terus.

46 Anton dikaluakan dari sakulah karno lah tigo kali masuk buku itam.

Anton dikeluarkan dari sekolah karena sudah tiga kali melanggar peraturan sekolah.

47 Tanakkan nasi tuh kagit ayah balek ndak makan.

Masakkan nasi itu karena bentar lagi ayah pulang mau makan.

48 Cpek larian Komah Sakit orang balago tuh!

Cepat larikan kerumah sakit orang kecelakan itu!

49 Malam kagit Rio ndak mengadokan patemuan dengan Camat .

Nanti malam Kepala Desa akan mengadakan pertemuan dengan Camat.

50 Pakumpulan pemuda Rantau Embacang ndak mangadokan acara.

Perkumpulan pemuda Rantau Embacang mau mengadakan acara.

51 Burung tuh batarbangan waktu dialau.

Burung itu beterbangan ketika diusir.

52) Ngapo kamu baduo ko bamaRahan trus dido parnah babaek

Apa yang menyebabkan kalian berdua saling marahi terus.

53) Ngapo kamu baduo tuh basnapan bae.

Kenapa kalian berdua sama-sama diam saja.

54 Dede, kaujanan pgi kasukulah tadih.

Dede, kaujanan pergi kesekolah tadi.

55 Adək, kasnangan dəŋa lagu tuh.

Adik, kesukaan dengar lagu itu.

56 Ado umah uRang kamalingan malam tadih.

Ada ruma orang kemalingan tadi malam.

57 Mak, kapnatan balek dari umo.

Mak kecapekan sehabis pulang dari sawah.

58 Mak, kmalingan di pasa

ibu, kecopetan di pasar

59 Mak, kapnatan balek dari umo.

Mak kecapekan sehabis pulang dari sawah.

60 Kau tega duokan ngan.

Teganya kamu menduakan saya.

61 Kami batigo lah pgi kaumo tadih

Kami bertiga saja pergi kekebun tadi.

67 Isuk pagi kami ndak katalang.

Pagi besok kami mau kekebun.

68 Bulih lah daangkut kini barang tuh?

Boleh diangkut sekaranang barang itu?

69 Kayu tuh dido tlok daantam

Kayu itu tidak sanggup dihancurkan.

70 Jangan daguncang galon tuh

Jangan digoyang jirigen itu.

71 Jangan datendang bola tuh

Jangan disepak bola itu.

72 Nantek nangih baru dategah

Sudah .nangis baru dileraikan

73 Dido tlok dategah wongkoh!

Tidak sanggup diberitahu kamu ini!

74 Jangan dapanjek nio tuh!

Jangan dipanjat kelapa itu!

75 Lah dabaco pengumuman domah ayuk tuh tadih wek kawan?

Sudah ada kamu membaca pengumuman?

76 Cubo bapike awak. tau lah mano yang tabaik bagi awak

Coba kamu berfikir, saya rasa kamu tau mana yang terbaik.

77 cubolah kubit kaluh bagani!

Cobalah kamu cubit kalau berani!

78 lah turun pulak nyo kabawah

Sudah turun lagi dia kebawah

79 Naek kabalai

Naek kepondok.

80 Naek lah kaumah kami

Mampir lah dirumah kami.

81 ngan ndak manclek gawe kamu.

Saya mau meihat pekerjaan kamu.

82 Kamu anuh mambunuh ayam kami?

Kamu yang membunuh ayam kami?

83 Bapak kayek nyalo.

Bapak menjala kesungai.

84 Kami anuh manyalo.

Kami yang menjala.

85 Bisa kawan ngunting gambut?

Bisa tidak kamu memotong rambut?

86 Lah mangijau padi domo.

Sudah menghijau padi disawah.

87 Lah maliba kurap kawan koh.

sudah melebar kurap kamu ini.

88 Tasenyum nyo nyelik ngan tadi

Tersenyu dia melihat saya tadi.

89 Kawan bisa mambao mubil dak?

Kamu bisa tidak membawa mobil ?

90 Umo sasemak ko dido tatebeh wek kawan?

Ladang sesemak ini tidak terbersihkan oleh kamu

91 Ngan dido sangajo talangkah makanan tuh tadih

Saya tidak sengaja melangkah makanan itu tadi.

92 Glas tuh tapecah wek ngan tadih.

Saya yang memecahkan gelas itu tadi.

93 Tatangih gok ngan ngimak ughang tuh tadih.

Pengen lagi saya melihat orang itu tadi.

94 Tajago ngan tidu wek uRang gibut nian

Saya terbangun mendengar orang ribut tadi

95 Kukukan nio tuh!

Kukurkan kelapa itu!

96 Tulong julukkan jambu tuh!

Tolong julukkan jambu itu!

97 Baehkan supayo nyo balaghi.

Lemparkan supaya dia lari.

98 Batakkan jambu tuh.

Lemparkan jambu itu.

99 Lah dagulai taruk tadih ?

Sudah masak sayur tadi?

100 Gdangkan dikit suraro musik tuh!

Besarkan sedikit volume music itu!

101 Kito ubuhkan umah wongtuh!

Kita hancurkan rumah orang itu!

102 Rakkan galo-galo budak tuh!

Bangunkan anak-anak itu semuanya!

103 Pikekan wek kamu apo sulusi anuh tabaik

Fikirkan oleh kamu apa solusi yang terbaik.

104 Antakan kareta tuh komah nakan

Antarkan sepeda itu kerumah panaan

105 Capakkan kaarah sikon!

Lemparkan kearah sini!

106 Kaarah mano umah ninek Siti dih?

Buk, Kearah mana rumah nenek Siti?

107 Tanamkan jagung tuh!

Tanamkan jagung itu!

108 Sabunkan adek tuh!

Sabunkan adik itu!

109 Ubatkan luko kau tuh, kagit tambah parah!

Obati luka itu, supaya tidak terinfeksi.

110 Jangan nganggu uRang bagawe.

Jangan ganggu orang sedang bekerja.

111 Dusun koh lah jaghang nian Nampak budak bakareta.

Di dusun ini sudah jarang sekali kelihatan anak-anak bersepeda.

112 Ughang tuh nyapo kawan dak tadih?

Bukankan orang itu tadi menyapa kamu?

113 Kawan tuh bakakak manggil ngan koh!

Kamu (lk) itu seharusnya memganggil saya dengan sebutan kakak!

114 Kawan tuh bakulup manggil ngan koh!

Kamu (lk) itu seharusnya memganggil saya dengan sebutan abang!

115 Kawan tuh bauwo manggil ngan koh!

Kamu (lk) itu seharusnya memganggil saya dengan sebutan uak!

115 Kau tuh baupik manggil ngan koh!

Kamu (pr) itu seharusnya memganggil saya dengan sebutan ayuk/kakak!

117 Kau tuh baitek manggil ngan koh!

Kamu (pr) itu seharusnya memganggil saya dengan sebutan tante!

118 Batang parah awak banyak dalilit akaq PKI.

Pohon karet kita banyak yang dililit akar PKI(nama akar)

119 Bakumpul damano awak malam kagit?

Berkumpul dimana kita malam ini?

120 Buluh tuh jangan dabelah!

Bambu itu jangan dibelah!

121 Lah dakicap gulai tuh tadih?

Sudah dicuicipi gulai itu?

122 Jangan dapebang gih adek tuh!

Jangan dipegang lagi adik itu!

123 Tatidou nyo disanok.

Tertidur dia disana.

124 Abihkan jodah tuh?

Habiskan Dodol itu?

125 Manihkan dikit agi?

Maniskan sedikit lagi?

126 Masinkan dikit gih ?

Asinkan sedikit lagi?

127 Pdehkan dikit dikit?

Pedaskan sedikit lagi?

128 Tinggikan dikit agi?

Tinggikan sedikit lagi?

129 Gendahkan dikit agi?

Turunkan sedikit lagi?

130 Kappalang ngabih sabanyak tu tuh!

Gamapang menghabiskan sebanyak itu!

131 Untalkan tali tuh ksiko ?

Lemparkan tali itu?

132 Kucilkan calano sukulah tuh sabelum busik?

Gantikan Celana sekolah itu sebelun pergi main?

133 Dengankan ughang tuh bacakap!

Ddengarkan orang itu berbicara!

134 Baguguh lah kamu, di tgah dido tlok!

Berkelahilah kalian, sudah dileraikan tidak mau!

135 Kawan anuh ngedangkan lampu tuh tadih?

136 Kawan anuh .ngidupkan lampu tu tadih?

Kamu yang menyalakan lampu itu tadi?

137 Anjing kami lah dabunuh ughang malam tadih.

Anjing kami dibunuh orang tadi malam.

138 Lah dakumpulkan dagian tuh tadih?

Sudah dikumpulkan durian itu tadi?

139 Lah daprikso Umo tuh tadih?

Sudah diperiksa lading itu tadi?

140 Adik tadih lah damandikan?

Adik tadih udah kamu mandikan?

141 Lah daminum ubat tadih?

Sudah diminum obat itu tadi?

142 Lah dapasang atap tadih?

Sudah dipasang atap tadi?

143 Lah parnah dapangkou pangkou kamu koh?

Sudah pernah dicangkul sawah kamu ini?

144 Lah datinggikan Honda kawan koh?

Sudah ditinggikan motor kamu ini ?

145 Lah dateduhkan kambing awak tadih?

Sudah diteduhkan kambing kita tadi?

146 Kәncang nian balaghi budak tuh.

Cepat sekali lari anak itu.

147 Cpek nian bajalan ninek tuh!

Cepat sekali jalan nenek itu!

148 Budak tuh bijak nian bagawe.

Anak itu pintar sekali bekeerja.

149 Knakkan calano adik tuh?

Pakaikan celana adik itu?

150 Ngapo kamu bagenti sikon pulak!

Kenapa kamu berhenti di sini ?

151 Oi, jangan balaghi-laghi!

Oi, jangan berlari!

152 Sepo basiul-siul tadih tuh?

Siapa bersiul-siul tadi?

153 Dido basaligho ngan nyelik makan koh.

Tidak berselera makan melihat makanan ini.

154 Jangan dapicit bisul tuh!

Jangan dipencet bisul itu!

155 Sepo taguling tuh?

Siapa terjatuh itu?

156 Jangan manikam ughang!

Jangan membacok orang!

157 Kato ughang dunio ko baputa.

Orang bilang dunia ini berputar

158 Jangan manangih nak .

Jangan menangis nak.

159 Ayam kami damaling ughang malam tadih

Ayam kami dicuri orang tadi malam.

160 Ayam tadih lah dabantai blom?

Ayam tadi sudah disembelih belum?

171 Ngapo dido damakan labo koh?

Mengapa tidak dimakan kue ini?

172 Kain koh dido bulih dacuci pkai sabun.

Kain ini tidak boleh dicuci pakai sabun.

173 Jangan dabaka semak tuh!

Jangan dibakar semak-semak itu!

174 Takantuk nian mato ngan wih.

Ngantuk sekali mata saya.

175 Dido takcak kain tuh wek nyo.

Tidak terpakai kain itu oleh dia.

176 Daghi bukoh nyo tuh tunak da siko

Sudah dari dulu dia tinggal di sini.

177 Lah barapo lamo kawan bacewek dengan nyo?

Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan dia?

178 Daghi dulun nyo tuh tamasuk ughang bijak.

Dari dulu dia itu termasuk orang pintar.

179 Da mano jalo kamu tasangkut tadih lup ?

Di mana jala abang tersangkut tadi?

180 Anak ayam tu mati daguguh budak.

Anak ayam itu mati dipukuli anak-anak.

181 Clek jlan tuh, tacipak glaih tu kgit!

Lihat jalan itu, nanti tertendang gelas itu!

182 Clek jlan tuh, tapijak glaih tu kgit!

Lihat jalan itu, nanti terinjak gelas itu!

183 Clek jlan tuh, tabayak glaih tu kgit!

Lihat jalan itu, nanti tertumpah gelas itu!

184 Tagagau wongtuh waktu ngan segak.

Terkejut kamu waktu saya kejutkan.

185 Taingat maso-maso kito SD dulun.

Teringat masa-masa kita SD dulu.

186 Talulung waktu ngan kanjat.

Berteriak sewaktu saya kejuti.

187 Tapikul wek nyo kayu sagdang tuh.

Terpikul oleh dia kayu sebesar itu.

188 Maaf, ayam ko dido sangajo taguguh wek ngan tadih.

Maaf, ayam ini tidak sengaja saya pukul tadi.

189 Sampai manangih baghu ngan pueh,

Sampai menangis baru saya puas.

190 Hoi, cubo angokkan muko kawan tuh?

Hoi, coba perlihatkan muka kamu itu?

191 Lah basalam awak tadih lom?

Sudah bermaafan kuta tadi belum?

192 Samo-samo bamaaf awak yeh?

Sama-sama memaafkan kata ya?

193 Lah kakubou kawan tadih?

Sudah kemakam kamu tadi?

194 Lah dajemput gtah tadih?

Sudah dijemput karet tadi?

195 Honda ngan blum dabena gok.

Motor saya belum diperbaiki juga.

196 Tulong clekkan gok gtah ngan yeh wih!

Tolong lihat juga karet saya ya?

197 Sepo balago disimpang tuh?

Siapa yang tumburan disimpang itu?

198 Mak ngubah baju yang kebesaran tadi tu.

Ibu lagi merubah baju yang kebesaran tadi.

199 Mak, ngan ngukut kamu ka Jambi yoh?

Ibu, saya ikut ke Jambi ya?

200 Kaki ngan ngalitek sudah maen bal tadih.

Kaki saya gemetaran setelah main bola kaki tadi.

201 Ngacau bae wongkoh!

mengganggu saja kamu ini!

202 Ninek sdang ngubat orang sakit.

Nenek lagi mengobati orang yang sedang sakit

203 Ninek sdang ngubak nio.

Nenek lagi mengupas kelapa.

204 Lah dacubo lom handa baghu kawan tuh?

Sudah dicoba motor baru kamu?

205 Gdangkan dikit pinggang calano koh.

Besarkan sedikit pinggang calana ini.